Hari ini para siswa mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya. Mereka tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga melihat langsung berbagai bentuk inovasi dan jejak sejarah yang ada di sekitar mereka. Kegiatan diawali dengan mengenal teknologi sederhana berupa inovasi dari anak Kulon Progo yang dikenal dengan Lumatra. Alat ini dirancang untuk menangkap hama, sehingga dapat membantu para petani dalam mengurangi dan mengontrol serangga yang merusak tanaman. Dari sini, siswa belajar bahwa kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan dapat melahirkan solusi nyata bagi permasalahan di masyarakat.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi Museum Sonobudoyo. Di tempat ini, siswa diajak menelusuri jejak peninggalan sejarah, mulai dari masa Hindu-Buddha hingga perkembangan Islam di Nusantara. Mereka juga mengenal perjuangan para wali, khususnya Wali Sanga, dalam menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang damai dan penuh kearifan budaya. Hal ini memberikan pemahaman bahwa keberagaman budaya dan agama di Indonesia terbentuk melalui proses sejarah yang panjang.

Selanjutnya, siswa melakukan napak tilas ke Museum Diponegoro untuk mengenal lebih dekat perjuangan Pangeran Diponegoro. Di museum ini, mereka melihat berbagai peninggalan bersejarah yang menjadi saksi bisu perjuangan beliau dalam melawan penjajah. Kisah keberanian, pengorbanan, dan semangat juang yang ditunjukkan oleh Pangeran Diponegoro memberikan inspirasi bagi siswa untuk mencintai tanah air dan menghargai jasa para pahlawan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, siswa memahami bahwa pembelajaran tidak hanya terbatas di dalam kelas, tetapi juga dapat diperoleh dari pengalaman langsung di lapangan. Mereka melihat secara nyata bagaimana inovasi dapat membantu kehidupan masyarakat, sekaligus memahami nilai-nilai perjuangan dalam sejarah bangsa. Dengan demikian, kegiatan ini menjadi sarana penting untuk menumbuhkan kreativitas, wawasan, serta rasa cinta terhadap Indonesia.